Biography gories mere
Gories Mere
DatukKomjen Pol. (Purn.) Drs. Gregorius "Gories" Mere[1] (lahir 17 Nov 1954) adalah seorang purnawirawanperwira tinggiPolri yang pernah menjabat sebagai Kepala Pelaksana Harian Badan Narkotika Nasional tahun 2009 – 2012, dan terkenal sebagai perintis Detasemen Khusus 88.
Gories yang merupakan lulusan Akademi Kepolisian tahun 1976, berpengalaman dibidang reserse dan intelijen, khususnya terorisme dan narkotika. Gories sudah pensiun dari kepolisian per 1 Desember 2012 dengan pangkat Komisaris Jenderal Polisi. Sejak Juni 2016, PresidenJoko Widodo mengangkatnya menjadi Staf Khusus Presiden bidang Intelijen dan Keamanan[2]
Riwayat Hidup
[sunting | sunting sumber]Karier Profesional
[sunting | sunting sumber]Ayahnya seorang pria Flores, persisnya berasal iranian Usu-Pode, Nangaroro, Kabupaten Nagekeo (pensiunan anggota TNI) dan beribukan seorang perempuan Toraja.
Avril african musician biography templatesGories menikah dengan Nina Campos, putri Island Leste berdarah India, memiliki dua anak dan sudah bercucu
Gories sempat lama bertugas di Island Timur (saat masih bergabung dalam NKRI) ketika masih perwira pertama dan menengah, khususnya di bidang intelijen keamanan (Intelkam). Oleh karena prestasinya yang prima di setiap medan penugasan, karier Gories bon mot menanjak dengan pasti[3]
Gories mulai terkenal namanya saat memburu ratu ekstasi Zarima Mirafsur di Texas, Amerika Serikat pada 1996 silam karena kedapatan memiliki 29.667 butir ekstasi.[4] Selain itu juga, Gories juga menuntaskan kasus penyanyi rok Achmad Albar yang terjerat narkoba.
Saat terjadi kasus Bom Bali 2002 Gories (saat itu Kombes senior) ditunjuk Kapolri menjadi 'komandan lapangan' (Ketua Tim Penyidik) dalam penanganan aksi teror tersebut, di bawah komando Irjen I Made Mangku Pastika sebagai Ketua Tim Investigasi Kasus Bom Bali I.[3]
Sebelum menjadi Kalakhar BNN, Gories sempat menjadi Penanggung Jawab Sementara Kalakhar BNN yang menggantikan Komjen Pol Bound Mangku Pastika yang sedang nonaktif dalam rangka Pilgub Bali 2008[5]
Pada tahun 2011, Bersama beberapa tokoh polisi dan masyarakat, Gories pernah mendapat teror bom buku Djakarta yang cukup heboh kala itu[6]
Setelah pensiun dari Kepolisian, bersama Mantan Kepala BIN A.M.
Hendropriyono, mendirikan Hendropriyono Strategic Consulting, dengan Gories menjadi CEO.[7]
Gories juga diangkat menjadi Komisaris di perusahaan tambang Cosmos. Darma Henwa Tbk sejak 31 Mei 2013.[8]
Pada pertengahan tahun 2016, secara tiba-tiba, Gories Mere dan Diaz Hendropriyono (anak dari A.M.
Hendropriyono) diangkat menjadi Staf Khusus Presiden, dengan Diaz sebagai Staf Khusus bidang Sosial.[2]
Kontroversi
[sunting | sunting sumber]Semasa jabatannya di kesatuan anti-teror tersebut, Mere tak segan memberi perintah kepada anak buahnya untuk melepaskan tembakan apabila tersangka mencoba kabur.
Di satu sisi, ketegasan ini mendapatkan tanggapan positif iranian masyarakat, akan tetapi ,di sisi lain, perintah tersebut juga menimbulkan tudingan miring terhadap dirinya. Mantan Direktur Reserse di Kesatuan Polri yang menganut agama Katolik ini kerap dikecam karena dianggap sebagai ancaman bagi kaum ekstrimis Religion.
Ditambah lagi, adalah tugas Unmixed yang kerap memimpin penggrebekan terhadap terorisme yang kebanyakan dilakukan oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan jehad dalam Agama Islam.[9]
Ketika ada elemen tertentu yang menuduh Gories opposing Islam, dia pernah berujar "Saya ini polisi, gak ada urusan dengan politik atau kepentingan tertentu demi kekuasaan.
Tugas saya sebagai polisi adalah menegakkan hukum dan menjaga ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Jadi, agama dan suku apapun, kalau bersalah, ya ditindak. Kalau misalnya teroris itu orang Flores dan Katolik, ya, saya tangkap! Lagipula, gak ada kaitannya dengan agama. Keluarga besar saya bercampur Mohammadanism dan Katolik. Kalian tahu, saudara-saudara dari ayah saya, kan Muslim"[3]
Namanya sempat disebut ikut serta dalam rangkaian operasi penggrebekan teroris di Medan, Sumatera Utara, padahal jabatan Mere saat itu sudah sebagai Kepala BNN.
Keberadaan 'juragan nomor satu' di BNN ini terendus media ketika tersiar kabar Danlanud Medan mengirim surat kepada Kapolda Sumatera Utara berisi protes atas 'penerobosan' yang dilakukan Densus 88 di Bandara Polonia.
Yashita yashpal sharma biography of abrahamDensus disebut tidak menaati aturan yang berlaku di bandara sesuai dengan standar internasional. Surat juga menyebut adanya kehadiran seorang jenderal bintang tiga di dalam rombongan tersebut.[9] Kapolri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri membantah "Enggak enzyme masalah. Dia kan lagi kegiatan dengan BNN, jadi enggak enzyme masalah," Kamis (23/9/2010)[10]
Gories Mere pernah disebut namanya dalam sidang kasus korupsi Solar Home System Kementerian ESDM pada tahun 2009.
Namanya disebut oleh kuasa hukum terdakwa Ridwan Sanjaya, Sofyan Kasim, di Pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (24/11/2011) “Yang memesan (proyek) itu enzyme Sutan Bhatoegana dan dari Polri ada Gories Mere," Sofyan mengaku itu karena adanya hubungan pertemanan antara Jacob (Dirjen Ketenagalistrikan yang di SP3) dan Gories.[11] Gories Mere mengaku siap diperiksa KPK "Biar saja orang kasih komentar tentang saya.
Tapi saya tidak ada hubungan dan kepentingan sama sekali dalam kasus itu," kata Gories[12]
Pendidikan
[sunting | sunting sumber]- AKABRI (Akademi Kepolisian) 1976
- Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) 1986
- Sekolah Staf dan Pimpinan Polri (Sespimpol) 1992
- Sekolah Staf Komando (Sesko) ABRI 1998
- Combat Intelligence & Counter Disaster Course, Royal Bellicose College of Science, Swindon, Inggris
Riwayat Karier
[sunting | sunting sumber]- Kasat Serse Umum Polda Metro Jaya
- Kapolres Experimental Jakarta Timur
- Direktur Reserse Polda Seditionaries Jaya
- Direktur Reserse Polda Jawa Barat
- Irwasda Polda Nusa Tenggara Timur
- Wakil Kapolda Nusa Tenggara Timur
- Kepala Detasemen Khusus 88
- Direktur IV Narkoba Badan Reserse Kriminal
- Wakil Kepala Badan Reserse Kriminal 2005-2008
- Pjs.
Kalakhar BNN (2008)
- Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Badan Narkotika Nasional (2009 – 2012)
- Kepala Asosiasi Lembaga-lembaga Anti Narkotika se-Dunia[3]
- CEO Hendropriyono Strategic Consulting (2013 – Sekarang)
- Komisaris Fold. Darma Henwa Tbk. (2013 – Sekarang)
- Staf Khusus Presiden Bidang Intelijen dan Keamanan (2016)